Manajemen Risiko Bencana Menggunakan Inovasi Teknologi

Inovasi yang Mengubah Cara Kita Melawan Bencana

 

oleh : Aqillah Angelina W
(225030100111065)
aqillahangel@student.ub.ac.id 

 


Sumber gambar : merdeka.com


    Indonesia adalah salah satu negara yang rentan terhadap bencana alam, non-alam, dan sosial, dimana salah satu faktornya yaitu kurangnya teknologi. Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kejadian bencana alam ini sangat mendominasi, pada 2024 terdapat bencana hidrometeorologi sebesar 98,86 persen; dan bencana geologi sebanyak 1,14 persen. Untuk mengurangi kerentanan dan kemungkinan bencana, diperlukan peningkatan kapasitas melalui program penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi dalam bidang kebencanaan.

Faktor lain Negara Indonesia rawan bencana yaitu berada di Cincin Api Pasifik, hal ini menjadi salah satu penyebab utama seringnya terjadi bencana alam. Contoh bencana alam yang terjadi di indonesia seperti; Gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, dan tanah longsor, hal ini yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Misalnya, letusan Gunung Merapi berulang kali menyebabkan kerusakan parah dan korban jiwa, termasuk letusan besar yang menewaskan ratusan orang pada tahun 2010. Selain itu, gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala pada tahun 2018 yang menewaskan lebih dari dua ribu orang dan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Selain itu, banjir dan longsor sering terjadi di berbagai wilayah seperti Mentawai dan Trenggalek, menyebabkan evakuasi massal dan kerusakan rumah. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya manajemen risiko bencana yang inovatif dan efisien untuk mengurangi dampak bencana alam di Indonesia dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi ancaman yang terus muncul.

Karena Indonesia rentan terhadap bencana alam, pemerintah dan masyarakat harus sangat siaga dalam menanganinya. Untuk mengurangi efek bencana, sistem peringatan dini, upaya mitigasi, dan edukasi kebencanaan terus dikembangkan. Dalam penanggulangan bencana, baik dari pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat juga harus saling bekerja sama.

Menurut undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 dijelaskan mengenai penanggulangan bencana yang menyebutkan bahwa pemerintah daerah menjadi penangung jawab penyelenggaraan penanggulangan bencana. Untuk ditingkat nasional Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) menjadi penanggung jawab  dalam penanggulangan bencana yang didukung oleh kementerian/lembaga terkait, seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, Basarnas, BMKG, dan lembaga terkait lainnya. Lembaga ini yang membantu menyalurkan komunikasi untuk menanggapi kejadian darurat dan juga dalam melakukan mitigasi bencana. Hal ini sesuai dengan Peraturan Kepala BNBP Nomor 3 Tahun 2016 mengenai kondisi tanggap darurat dimana baik pemerintah daerah dan pemerintah pusat akan membentuk Pos Komando (POSKO) tanggap darurat yang berfungsi untuk melakukan upaya penanganan darurat. 

Mengingat bahwa bencana dapat terjadi di mana saja dan kapan saja di Indonesia, penanganan risiko bencana alam adalah kebutuhan yang mendesak. Hampir seluruh wilayah Indonesia sekarang bergantung pada teknologi untuk menangani bencana alam. Inovasi terbaru dalam sistem peringatan dini termasuk penggunaan teknologi canggih untuk memberikan peringatan dini yang cepat dan akurat kepada masyarakat dan instansi terkait sebelum bencana terjadi. 

Manajemen risiko bencana merupakan aspek krusial dalam upaya mengurangi dampak negatif bencana alam terhadap masyarakat dan infrastruktur. Dalam era teknologi modern, inovasi sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) menjadi salah satu solusi efektif yang mampu meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap bencana. EWS memanfaatkan teknologi sensor, komunikasi digital, dan analisis data real-time untuk memberikan peringatan cepat dan akurat sebelum bencana terjadi, sehingga memungkinkan pengambilan tindakan mitigasi yang tepat waktu.

Selain itu, kemajuan teknologi mendorong pendekatan yang lebih berfokus pada manusia dalam mitigasi bencana. Teknologi tidak hanya menjadi alat, tetapi juga sarana pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan komunitas lokal dalam pengambilan keputusan dan pengawasan. Misalnya, penggunaan aplikasi berbasis IoT yang membuat warga dapat melaporkan kondisi lingkungan secara langsung, meningkatkan sistem peringatan dini, dan meningkatkan respons lapangan.

Dalam manajemen risiko bencana, Early Warning System (EWS) adalah sistem yang terintegrasi mengenai pemantauan bahaya, prediksi, resiko bencana, dan pendeteksi bencana yang membuat individu, masyarakat, ataupun pemerintah dapat mengambil tindakan yang tepat sehingga dapat meminimalisir dampak dari suatu bencana. Fungsi dan tujuannya yaitu pertama, memberikan peringatan dini kepada masyarakat mengenai potensi bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir, gunung berapi, erupsi, longsong, dan lain-lain. Kedua, dapat mengurangi risiko korbanjiwa dan kerugian material dikarenakan dapat memanfaatkan waktu (golden time) sebelum terjadinya bencana. Dan yang ketiga, dapat mempercepat proses penyebaran informasi kepada masyarakat agar dapat segera mengambil tindakan mitigasi ataupun kesigapan evakuasi. 

Menurut United Nation Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR), sistem peringatan dini merupakan sistem yang mendefinisikan empat elemen utama yaitu; pemantauan dan deteksi risiko, prediksi dan analisis ancaman, penyebaran informasi secara tepat waktu, dan tindakan yang tanggap dalam menghadapi bencana. Sehingga memang sistem peringatan dini ini akan memiliki manfaat dan membantu penanganan bencana baik saat sebelum terjadinya bencana sampai tahap evakuasi bencana. 

Di bidang mitigasi bencana alam, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah meluncurkan inovasi teknologi 4.0 yang memperkuat sistem peringatan dini bencana, seperti yang bernama Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS) 4.0. Sistem ini menggabungkan big data dan artificial intelligence untuk meningkatkan kecepatan, ketepatan, dan jangkauan informasi peringatan tsunami dan gempa bumi, sehingga masyarakat dan pemerintah dapat merespons dengan lebih efektif. 

BMKG sangat membutuhkan big data untuk mengembangkan inovasi teknologi 4.0 untuk mitigasi bencana, dengan adanya big data memungkinkan BMKG mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data dalam jumlah besar dan beragam dari berbagai sumber secara real-time. Sumber-sumber ini termasuk data tentang titik panas kebakaran hutan, gempa bumi, tsunami, dan cuaca ekstrem. 

Dalam mitigasi bencana, AI juga memiliki peran yang penting, dimana dapat digunakan untuk membuat simulasi berbasis teknologi yang memberikan pengalaman pelatihan realistis bagi masyarakat dan tim tanggap darurat, sehingga meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan merespons bencana. AI juga mampu mengolah data historis untuk memberikan wawasan tentang potensi ancaman di masa depan, membantu masyarakat mengambil langkah preventif yang lebih tepat dan membangun budaya kesiapsiagaan yang lebih baik

Maka dari itu di indonesia ini sudah mulai mengembangkan inovasi untuk menanggapi bencana alam di indonesia, salah satunya teknologi yang bernama INATEWS (Indonesian Tsunami Early Warning System). INATEWS adalah sebuah sistem peringatan dini tsunami yang dirancang untuk mendeteksi dan memberikan peringatan secara cepat kepada masyarakat dan pihak berwenang sebelum tsunami terjadi. Dengan adanya INATEWS 4.0, BMKG dapat memproses dan memverifikasi data gempa dan potensi tsunami dalam waktu kurang dari lima menit, bahkan menargetkan penyebaran peringatan dini tsunami dalam waktu tiga menit setelah gempa terjadi, jauh lebih cepat dibandingkan sistem sebelumnya yang memerlukan waktu lebih dari lima menit atau bahkan lebih dari dua jam seperti saat tsunami Aceh 2004. Sistem ini didukung oleh jaringan sensor yang tersebar di sekitar 170 titik di seluruh Indonesia serta pemodelan skenario tsunami sebanyak 17.000 model berdasarkan algoritme matematika yang canggih. Selain itu, inovasi ini juga memperluas jangkauan peringatan hingga mencakup 10 negara ASEAN dan 28 negara di wilayah Samudera Hindia, sehingga memberikan kontribusi penting bagi keselamatan regional.

Selain itu untuk mendukung EWS ini juga diperlukan sensor dan perangkat secara digital untuk pemantauan dan analisis data secara lebih luas dan real-time, yaitu dengan Internet of Things (IoT). Dengan kata lain, EWS bisa berbasis IoT, tetapi IoT memiliki cakupan fungsi yang lebih luas dalam mitigasi bencana, termasuk pemantauan, deteksi, dan komunikasi data secara otomatis. Mitigasi bencana menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) yang menghubungkan berbagai perangkat dan sensor secara real-time melalui internet untuk memantau kondisi lingkungan dan mendeteksi bencana secara dini, dengan data seperti suhu, kelembaban, ketinggian air, aktivitas seismik, dan kualitas udara yang dikumpulkan secara otomatis dan terus-menerus oleh Internet of Things, dengan begitu tim respons bencana dapat memperoleh informasi akurat dan cepat untuk mengambil tindakan preventif dan evakuasi.

Seperti penerapan IoT pada aktivitas gunung berapi, yaitu menggunakan sensor LoRa yang terorganisir dengan teknologi Low Power Wide Area Network kita dapat mengetahui tentang suhu ataupun kelembapan tanah, hal ini nantinya akan dikirimkan secara real-time ke platform web ataupun smartphone. Teknologi ini dapat menjangkau jarak hingga beberapa kilometer tanpa memerlukan infrastruktur internet yang rumit, yang membuatnya sangat efektif di daerah terpencil. Sensor gas seperti MQ135 dan MQ136 digunakan dalam sistem ini untuk mengukur konsentrasi gas beracun seperti sulfur dioksida (SO2) dan hidrogen sulfida (H2S), yang merupakan indikator aktivitas vulkanik. Cakupan yang dijangkau mencapai 3 km di area terbuka seperti contoh Gunung bromo meskipun terhalang vegetasi/lereng. Data yang dikirimkan juga tidak hanya mengenai seismik tetapi juga emisi gas beracun yang tidak disertai gempa. Teknologi ini masih merupakan solusi inovatif yang efektif untuk menangani bencana vulkanik di daerah yang sulit dijangkau, meskipun ada beberapa hambatan seperti gangguan lingkungan dan kehilangan data pada jarak tertentu.

Selain untuk aktivitas gunung berapi IoT ini juga berperan dalam mitigasi kebakaran hutan, dengan menggunakan jaringan sensor yang terletak di hutan, Internet of Things dapat memantau berbagai faktor lingkungan, seperti suhu, kelembaban tanah dan udara, dan apakah ada asap atau api. Data yang dikumpulkan oleh sensor ini secara real-time dikirim ke pusat pemantauan melalui internet, yang memungkinkan deteksi kebakaran dalam hitungan menit dan jauh lebih cepat daripada pendekatan konvensional. Selain itu, drone yang memiliki kamera termal dan sensor IoT dapat memantau area hutan yang luas dan sulit dijangkau dan menemukan titik panas yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Selain itu, kecerdasan buatan (AI) dapat digunakan untuk menganalisis data yang terkumpul untuk memprediksi area yang berisiko tinggi dan membantu dalam pengambilan keputusan tentang cara mencegah dan menangkal kebakaran. 

Penerapan Iot juga digunakan dalam mitigasi bencanna gempa bumi, dimana penggunaan sensor geofisika, seperti akselerometer, geofon, dan GPS, ditempatkan di lokasi strategis untuk mendeteksi getaran tanah dan gelombang seismik secara real-time. Data yang dikumpulkan oleh sensor ini dikirim ke pusat pengolahan data Internet of Things (IoT) melalui jaringan IoT. Di sana, algoritma khusus, seperti Support Vector Machine, digunakan untuk mengidentifikasi gempa, mengukur potensi kerusakan, dan mengurangi kerusakan. Sistem ini juga terbukti dapat mendeteksi aktivitas seismik dengan sangat akurat dan memberikan peringatan dini dalam beberapa detik setelah getaran yang mencurigakan terjadi. Teknologi Internet of Things memungkinkan transmisi data real-time melalui jaringan internet dan pemantauan seismik yang tersebar luas. Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa sensor gerak yang digunakan dalam sistem ini dapat mendeteksi gempa dengan intensitas sedang hingga tinggi dengan waktu respons yang cepat (dalam skala intensitas gempabumi SIG III hingga SIG VI). 

Untuk mengurangi bencana banjir, teknologi Internet of Things (IoT) menggunakan berbagai sensor yang ditempatkan di lokasi penting seperti sungai, saluran drainase, dan rumah pompa. Sensor ini mengukur parameter penting seperti ketinggian air, laju aliran, curah hujan, dan tekanan sistem, dan data ini kemudian dikirim ke pusat pengendalian melalui gateway IoT. Sistem dapat memberikan peringatan dini kepada masyarakat dan pihak berwenang dengan informasi yang akurat dan terkini melalui pesan teks atau aplikasi seluler. Ini nantinya akan memberi mereka waktu yang cukup untuk mengambil tindakan pencegahan.

Penggunaan drone yang terhubung ke sensor IoT juga mempercepat pemantauan wilayah yang terpengaruh. Seperti yang terlihat di Jakarta, penerapan sistem ini telah meningkatkan respons bencana dan meningkatkan ketahanan kota terhadap banjir. Oleh karena itu, Internet of Things menjadi solusi inovatif untuk mitigasi banjir melalui prediksi, peringatan, pemantauan, dan pengelolaan sumber daya secara terintegrasi. 

Dengan kemajuan teknologi yang cepat, ada peluang besar untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan respons masyarakat terhadap ancaman alam. Cara kita melihat, mendeteksi, dan menanggapi bencana telah diubah oleh teknologi seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan sistem komunikasi nirkabel jarak jauh seperti LoRa. Sistem peringatan dini yang semakin canggih memungkinkan penyebaran informasi penting secara real-time, yang memberikan waktu penting bagi masyarakat untuk melakukan evakuasi dan tindakan penyelamatan.

Selain teknologi, kemajuan ini mendorong kerja sama lintas sektor, seperti pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal, sehingga penanggulangan bencana menjadi lebih inklusif dan terintegrasi. Metode ini tidak hanya mengurangi risiko korban jiwa dan kerusakan, tetapi juga meningkatkan ketahanan ekonomi dan sosial komunitas yang rentan terhadap bencana. Oleh karena itu, inovasi dalam menangani bencana bukan hanya tentang alat dan teknologi, tetapi juga tentang meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan komitmen yang kuat.

Untuk menghadapi masa depan, tantangan bencana yang semakin kompleks yang disebabkan oleh urbanisasi dan perubahan iklim menuntut kita untuk terus mengembangkan dan beradaptasi. Sistem mitigasi bencana harus terus berkembang dan relevan melalui investasi dalam riset, kemajuan teknologi, dan edukasi masyarakat. Kita tidak hanya dapat menghadapi bencana dengan cara yang lebih baik, tetapi kita juga dapat membangun masa depan yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

 

 

 

 Referensi : 

Brian Warbun, K. B. (2024). STRATEGI PENERAPAN TEKNOLOGI IOT DALAM SISTEM KOMUNIKASI KEBENCANAAN DI INDONESIA. Ilmu Pengetahuan Sosial, 31010-31011.

Edwin Tenda, E. A. (2023). EARLY WARNING SYSTEM UNTUK POTENSI BENCANA LONGSOR di Kota Manado Berbasis IOT. Technology Informatics & Computer System, 64-65.

Fitri Fatimah, S. A. (2025). Sistem Monitoring Dan Deteksi Dini Terjadinya Gempa Berbasis Iot . Journal of Informatics Management and Information Technology , 31-33.

Nurul Devani Br Ginting, A. S. (2024). Implementasi IoT dan Sensor Termal untuk Mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan dengan Penentuan Koordinat. Building of Informatics, Technology and Science (BITS) , 818-821.

Siti Nadifah, C. S. (2024). Hubungan Mitigasi Early Warning System (EWS) dengan Kesigapan Relawan dalam Menghadapi Bencana di Desa Supiturang Kabupaten Lumajang. Health & Medical Sciences, 2.

 


Comments